Selasa, 17 Agustus 2010

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi Demam Tifoid


Kompas.com - Demam tifoid memang merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai di Indonesia. Menurut surveilans Departemen Kesehatan kita, kejadian demam tifoid meningkat dari tahun 1990 yang hanya 9,2 per 10.000 penduduk menjadi 15,4 per 100.000 penduduk pada tahun 1994. Sebagian penderita memang kelompok remaja dan usia muda.

Demam tifoid disebabkan kuman, dan kuman masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman. Sebenarnya, lambung kita mampu mematikan sebagian kuman tifoid ini, tetapi jika jumlah banyak, kuman yang tak berhasil dimatikan akan beredar ke seluruh tubuh melalui darah. Timbullah gejala demam dan kadang nyeri perut. Masa inkubasi penyakit ini 10 sampai 14 hari.

Tifoid toksik
Gambaran klinis demam tifoid dapat bervariasi, dari penyakit ringan sampai penyakit yang berat. Tifoid toksik merupakan gambaran klinis yang berat. Tifoid toksik sebenarnya sudah agak jarang dijumpai, tetapi keadaan tersebut dapat terjadi karena pengaruh faktor kuman dan respons imun tubuh penderita.

Dibandingkan dengan negara tetangga, kejadian demam tifoid di negeri kita masih lebih tinggi. Mungkin ini berkaitan dengan upaya kita untuk menjaga kebersihan diri dan kebersihan makanan yang belum optimal.

Jika diperhatikan di Malaysia, Singapura, dan Thailand, pengawasan terhadap kebersihan makanan dijalankan secara teratur. Di negeri kita, banyak orang yang makan di luar rumah termasuk di kaki lima, dukungan untuk kebersihan makanan di kaki lima ini belum dijalankan dengan baik.

Di sekolah ada kantin sekolah, tetapi kebersihannya belum terjaga dengan baik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah melakukan pembinaan terhadap kantin sekolah di sekolah dasar di Kampung Melayu, Jakarta. Tujuannya adalah agar makanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan gizi anak dan dihidangkan dalam lingkungan yang bersih.

Institut Pertanian Bogor juga sudah lama menggagas kantin sekolah yang sehat. Mudah-mudahan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan dapat menindaklanjuti rintisan ini.

Masyarakat sendiri perlu mengamalkan hidup bersih. Sering mencuci tangan dan mengonsumsi makanan yang bersih, tak tercemar kuman. Salah satu kekurangan pedagang makanan di pinggir jalan adalah air bersih. Mungkin dinas kesehatan dapat membantu sehingga cemaran kuman dan virus terhadap makanan jajanan dapat dikurangi.

Vaksinasi
Setelah menderita demam tifoid, penderita akan mengalami kekebalan terhadap kuman tifoid. Namun, hanya sebagian saja penderita yang mempunyai kekebalan. Sebagian lain tidak sehingga dapat terjadi infeksi demam tifoid berulang. Untuk mencegah penularan demam tifoid, di samping hidup bersih dapat juga dilakukan vaksinasi tifoid. Dewasa ini, di Indonesia tersedia vaksin tifoid suntikan. Vaksinasi harus diulang tiap tiga tahun.

Dengan meningkatnya keinginan melakukan wisata kuliner, risiko penularan penyakit yang ditularkan melalui makanan akan meningkat. Karena itu, sudah waktunya dinas kesehatan meningkatkan kegiatan pembinaan pedagang makanan agar mampu menyediakan makanan yang bebas kuman penyakit. Di restoran yang mewah sekalipun keamanan makanan tetap harus dijaga. Para penyaji makanan hendaknya harus bebas dari kuman tifoid agar tak menularkan ke pelanggan.

Di luar negeri juga ada aturan khusus untuk menjamin keamanan makanan. Salah satu upaya para pengolah dan penyaji makanan mendapat vaksinasi demam tifoid. Peningkatan angka kejadian demam tifoid di masyarakat patut menjadi perhatian kita semua.

Kita perlu berhati-hati memilih makanan dan minuman, para pedagang menjaga makanan yang disajikan agar bersih, serta dinas kesehatan melakukan pembinaan dan pengawasan.
Dr.Samsuridjal Djauzi

Keseringan Minum Parasetamol Bikin Remaja Rentan Asma

Keseringan Minum Parasetamol Bikin Remaja Rentan Asma


Selandia Baru, Parasetamol dikenal sebagai obat penurun demam dan pereda nyeri seperti sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot. Tapi penggunaan parasetamol secara rutin dapat menyebabkan asma, alergi hidung dan eksim pada remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lebih dari 300 ribu partisipan remaja usia 13-14 tahun, menunjukkan bahwa partisipan yang mengonsumsi parasetamol setidaknya satu kali dalam sebulan, 2,5 kali lebih mungkin terserang asma.
Bahkan partisipan yang hanya mengonsumsi sekali dalam setahun, 30-50 persen dapat mengembangkan penyakit asma. Studi juga berkaitan dengan alergi hidung dan eksim.

Untuk eksim, orang yang mengonsumsi parasetamol sekali dalam setahun, sepertiga kali lebih mungkin memiliki kondisi kulit eksim. Dan penggunaan sekali dalam sebulan mengembangkan eksim kurang dari dua kali lipat.

Menurut tim penelitian dari Medical Research Institute, Selandia Baru, meski belum dapat menentukan apakah parasetamol jelas menyebabkan peningkatan risiko asma, eksim dan alergi hidung, tapi ada banyak bukti yang berkembang dan mengarah pada kasus ini.

Peneliti berpendapat bahwa parasetamol sebagai obat penghilang rasa sakit yang bersifat antipiretik atau analgesik, dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan peradangan di saluran napas. Hasil penelitian telah dipublikasikan pada American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

"Ditemukan bahwa parasetamol secara luas digunakan oleh hampir setengah dari pasien yang menderita asma parah. Ini sebenarnya bisa dicegah dengan menghindari penggunaan parasetamol," jelas Dr Richard Beasley, profesor kedokteran dan penulis utama penelitian, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (16/8/2010).

Menurut Dr Beasley, keseluruhan dari pasien asma parah yang terkait dengan penggunaan parasetamol adalah sekitar 40 persen. Hal ini menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang cukup jelas.

"Percobaan terkontrol sangat dibutuhkan untuk meneliti lebih lanjut hubungan kasus ini dan untuk membimbing penggunaan antipiretik. Tidak hanya pada anak-anak dan remaja, tetapi juga pada wanita hamil dan orang dewasa," ungkap Dr Beasley.

(mer/ir)

Minggu, 15 Agustus 2010

46 Obat Tradisional Ini Berbahaya

46 Obat Tradisional Ini Berbahaya

Sabrina Asril
Sejumlah produk obat tradisional (jamu) ditemukan BPOM RI mengandung bahan kimia obat (BKO) dosis tinggi yang berbahaya untuk tubuh.
    JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 46 produk obat tradisional atau jamu ditemukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengandung bahan kimia obat (BKO) dengan dosis tinggi.

    Oleh karena itu, BPOM memperingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi produk-produk tersebut karena termasuk dalam kategori zat yang berbahaya bagi tubuh.

    "Ada obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat. Kemungkinan obat tradisional tersebut dicampur dengan bahan-bahan kimia," ujar Kepala BPOM RI Kustantinah di kantornya, Jumat (13/8/2010).

    Bahan kimia obat, lanjutnya, adalah kategori obat keras. Biasanya, di dalam obat ada takaran atau dosisnya karena kalau obat-obat itu lebih dari dosisnya, maka akan berdampak pada kesehatan.

    "Akan tetapi, obat tradisional atau jamu yang mengandung BKO ini dosis bahan kimianya bisa lebih tinggi dari obat biasa," ujarnya.

    Apabila masyarakat mengonsumsi obat tradisional atau jamu yang mengandung BKO tersebut, akan mengalami risiko gangguan kesehatan serius, terutama pada lambung, lever, ginjal, dan hati. Bahkan, bisa berujung pada kematian.

    Berdasarkan temuan BPOM dalam kurun waktu 10 tahun, obat-obat tradisional yang sering kali mengandung BKO adalah obat diet, obat kuat, obat rematik, dan obat penghilang rasa sakit.

    "Padahal, obat tradisional harusnya herbal, tidak boleh sama sekali ada bahan kimia," ujar Kustantinah.

    Inilah 46 produk jamu yang berbahaya menurut temuan BPOM :

    8 produk yang nomor registrasinya dibatalkan:
    1. Wei Yi Xin Kapsul
    2. Gemuk Segar Eka Jaya No 1 serbuk
    3. Keteling Jiaonang
    4. Pegal Linu Eka Jaya No.2 serbuk
    5. Pegal Linu Sari Widoro COD
    6. Yin Chiao tablet
    7. Gemuk Sehat Pusaka Raga Serbuk
    8. Tenaga Sehat Pegal Linu serbuk

    33 produk yang tidak terdaftar dan mencantumkan nomor izin palsu:
    1. Asam Urat Flu Tulang Super kapsul
    2. Asam Urat Flu Tulang Super tablet
    3. Buah Delima Darah Tinggi kapsul
    4. Buah Delima kapsul
    5. Gajah Kuat tablet
    6. Gemuk Sehat untuk Pria dan Wanita Jati Sehat
    7. Obat Gatal-Gatal (Eksim) Brantas kapsul
    8. Obat Kuat Tongkat Mesir serbuk
    9. Pakar Jaya Asam Urat si Tangkur Serbuk
    10 Power Sex kapsul
    11. Serbuk Brastomolo
    12. Top Jaya Sakti kapsul
    13. Torpedo serbuk
    14. Walet Mas serbuk
    15. Yunang kapsul
    16. Chang San serbuk
    17. Flu Tulang serbuk
    18. Puji Sehat Gemuk Sehat serbuk
    19. Sukma Perkasa Asam Urat serbuk
    20. Asam Urat+Flu Tulang Ramuan Mahkota Dewa kapsul
    21. Kammasutera serbuk
    22. Pegal Linu dan Asam Urat Montalin kapsul
    23. Godong Ijo kapsul
    24. Buah Merah Khusus Pria dan Wanita kapsul
    25. Pa’e Obat Kuat dan Tahan Lama kapsul
    26. Kuat Jantan Obat Kuat dan Tahan Lama kapsul
    27. Akar Jawa China kapsul
    28. Pegal Linu Rheumatik Asam Urat untuk Pria
    29. Wanita Kuat Sentosa serbuk
    30. Multi Guna Kaler untuk Pria dan Wanita serbuk
    31. Asam Urat Kaler untuk Pria dan Wanita serbuk
    32. Samurat Extra untuk Pria dan Wanita serbuk
    33. Asam Urat Nyeri Tulang Pengapuran kapsul
       
    5 produk obat tradisional yang tidak terdaftar:
    1. 5X Lebih Dahsyat Obat Kuat dan Tahan Lama tablet
    2. On-Top kapsul
    3. Linzhe Ba Zi Hu Zin Lin tablet
    4. New Happy Strong kapsul
    5. Morinda Extra Ginseng kapsul

    Bahan di Rokok Elektrik yang Bisa Menyebabkan Kanker

    Bahan di Rokok Elektrik yang Bisa Menyebabkan Kanker

    Vera Farah Bararah - detikHealth

    img
    (dok: bpom)
    Jakarta, Rokok elektrik yang banyak beredar saat ini mengklaim produknya sehat dan telah bersertifikat internasional. Tapi ternyata ada bahan kimia yang terkandung di dalamnya juga bisa menyebabkan kanker.

    "Pada rokok elektrik ini niktoin dilarutkan dengan larutan seperti propilen glikol atau gliserin, jika bahan ini dipanaskan maka akan membentuk senyawa nitrosamine yang juga bisa menyebabkan kanker," ujar Kepala BPOM Dra Kustantinah, Apt, M.App.Sc dalam acara jumpa pers di gedung BPOM, Jl. Percetakan Negara, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

    Jika pada rokok biasa atau rokok konvensional terkandung berbagai zat selain nikotin seperti tar. Pada rokok elektronik menurut Kustantinah ada kemungkinan kandungan nikotinnya lebih besar daripada rokok biasa karena tidak mengandung zat lainnya.

    Rokok elektronik ini pertama kali ditemukan oleh negara China pada tahun 2003, tapi sekarang rokok ini sudah dilarang di negara tersebut. Beberapa negara lain seperti Australia, Brazil, China, Singapura, Thaliand dan Uruguay juga telah mempunyai larangan terhadap penjualan dan pemasaran rokok elektrik ini.

    "Untuk di Indonesia sendiri pelarangan atas rokok ini harus berkoordinasi dengan kementerian lain yang terkait seperti kementerian perdagangan," ungkap Kustantinah.

    Beberapa penelitian mengenai produk ini menemukan adanya banyak racun yang terkandung dalam produk rokok elektronik. Salah satunya adalah penelitian Dr Andreas Flouris dari FAME Laboratory Institute of Human Performance and Rehabilitation Center for Research and Technology, Yunani, yang menemukan hasil sebagai berikut:

    1. Propilen glikol, yang berpotensi menyebabkan keracunan.
    2. N-nitrosamine khusus tembakau, yang merupakan karsinogen kuat (penyebab kanker).
    3. Hidrokarbon polisiklik, racun yang bersifat non-karsinogen.
    4. Dietilen glikol yang sangat beracun dengan kadar 1 persen.

    Produk ini diklaim dapat menjadi alternatif bagi perokok yang ingin berhenti merokok. Namun, pada dasarnya produk ini sama berbahayanya dengan rokok konvensional, meski tak merugikan orang lain (tidak ada perokok pasif).

    Selain itu belum ada klasifikasi yang jelas tentang produk ini, apakah termasuk rokok, produk subsitusi, obat atau makanan. Sehingga sampai sekarang, baik BPOM maupun Kementerian Kesehatan belum bisa mengawasi peredaran produk ini.
    (ver/ir)