Tampilkan postingan dengan label Penyakit dan Pengobatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit dan Pengobatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 November 2010

Demam Chikungunya


Penyakit yang disebabkan virus chikungunya juga penyebarannya melalui nyamuk, antara lain Aedes Aegypti. Perbedaannya dari DBD adalah chikungunya tidak menimbulkan perdarahan hebat, syok dan kematian. Gejala utama penyakit chikungunya adalah tiba – tiba tubuh terasa demam diikuti dengan nyeri / linu dipersendian. bahkan, salah satu gejala yang khas adalah timbul rasa pegal – pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang dan sendi dan bisa menimbulkan kelumpuhan sementara sehingga, penyakit ini juga disebut demam tulang.

Virus ini menyerang semua umur baik anak – anak maupun dewasa didaerah endemis. Pada Anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan serta sering disertai gejala flu. Bahkan ada anak dijumpai dengan demam tinggi yang mengakibatkan kejang demam. Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, demam diikuti rasa sdakit pada otot dan sendi sehingga sulit untuk berjalan dan pembesara kelenjar getah bening. Mual dan muntah juga bisa menyertai. Demam ini biasanya hanya 3 hari tanpa perdarahan

Langkah Pengobatan
Masa inkubasi 2 – 4 hari dan manifestasi penyakit berlangsung 3 – 10 hari. Virus ini termasuk self limiting disease alias hilang dengan sendirinya. Jadi, usahakan jangan panik jika anggota keluarga mengalami penyakit ini karena tidak sampai menimbulkan kematian. Tapi rasa nyeri masih akan tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan. Dan harus waspada pada anak yang punya riwayat kejang demam.

Tidak ada vaksin atau obat khusus untuk penyakit ini . Cukup minum obat penurun panas dan penghilang nyeri serta istirahat dan asupan makan dan minum bergizi yang cukup. Untuk anak berikan obat penurun panas dan kompres untuk antisipasi demam tinggi yang mengakibatkan kejang demam.  Dokter biasanya memberikan golongan obat penurun panas / flu dan analgesik serta vitamin penguat daya tahan tubuh. Perbanyak air putih, asupan karbohidrat dan protein, makan buah -buahan segar terutama setelah melewati lima hari demam untuk memulihkan kondisi seperti semula.

Pencegahan
Karena penyakit chikungunya ini vektornya sama dengan penyakit DBD maka prinsip dasar pencegahannya  juga sama dengan pencegahan pada penyakit DBD.
Beberapa rekomendasi pencegahan yang efektif sebagai berikut :
  1. Tetap laksanakan 3M Plus.
  2. Cegah dengan Kentongan.
  3. Cari Informasi yang benar mengenai penyakit ini.
  4. Tetaplah menjaga kebersihan satu Desa atau kampung.
  5. Tanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk
  6. Yang paling ampuh adalah lindungi diri anda dari gigitan nyamuk.

Selasa, 02 November 2010

Konsep Dasar Diare

Definisi
Diare dikatakan sebagai keluarnya tinja berbentuk cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam dua jam pertama, dengan temperatur rectal diatas 38 derajat Celsius (Soegianto, 2002:73).

Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak bila frekuensinya lebih dari 3 kali (Bagian IKA FKUI, 2005:283).

Diare merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh semua orang terutama bayi dan anak-anak. Diare dapat mengancam jiwa bayi dan anak, karena bayi dan anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi orang dewasa. Hingga kini penyakit diare masih merupakan salah satu penyakit utama bagi bayi dan anak (Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Oktober 2006).

Menurut WHO 1992, diare sering terjadi pada anak-anak terutama anak usia 6 bulan sampai 2 tahun, atau pada bayi berusia dibawah 6 bulan yang minum susu sapi atau formula makanan bayi (Andriyanto, 1992:1).

Faktor-faktor yang Dapat Mempengaruhi Kejadian Diare

1. Faktor Infeksi
Infeksi enternal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enternal ini, meliputi :

a. Infeksi Bakteri:
Vibrio, E-coli, Salmonella, Stigella, Compylobacter, Fersinia, Aeromonas, dan sebagainya.
b. Infeksi Virus:
Enterovirus (Cirus echo, Coxsackie, Poliomyelitis), Adeno Virus, Rotavirus dan lain-lain.
c. Infeksi Parasit
Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides), Protozoa centamoeba, Hystolytica, Glardia lamblia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida albicans).
d. Infeksi Parenteral
Yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti Otitis Media Akut (OMA) Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak di bawah 2 tahun.

2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi Karbohidrat
Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
b. Malabsorbsi Lemak
c. Malabsorbsi Protein

3. Faktor Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

4. Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas walaupun jarang, dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar (Ngastiyah, 2005:224).

5. Sanitasi lingkungan yaitu higiene dan sanitasi yang buruk, mempermudah penularan diare baik melalui makanan, air minum yang tercemar kuman penyebab diare maupun air sungai (Majalah Kefarmasian, April 2004:1). Sanitasi lingkungan dapat diukur dengan kategori sanitasi lingkungan yang memadai dan sanitasi lingkungan yang tidak memadai.

Pendapatan keluarga, keadaan ekonomi yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan yang mereka hadapi disebabkan karena ketidakmampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka terhadap gizi, perumahan dan lingkungan yang sehat, pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya (Nasrul Effendy, 2003:39).

Pada umumnya seseorang yang pendapatannya tinggi dapat memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) sehari-hari seperti sandang, pangan dan papan, sehingga tercapai keluarga yang sejahtera (Ahmadi A, 1997: 334).

6. Faktor pendidikan, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai baru yang diperkenalkan (Notoatmodjo S, 2003:97).

7. Faktor budaya, faktor budaya yang berupa tradisi dan kepercayaan masyarakat membentuk perilaku positif maupun negatif terhadap perkembangan berkembangnya diare.

8. Faktor gizi, keadaan gizi yang buruk akan mempengaruhi lamanya diare dan komplikasinya. Anak dengan status gizi kurang kalori protein akan mengalami gangguan keseimbangan elektrolit dan diare mempercepat proses ini. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) serta makanan bergizi terbukti meningkatkan daya tahan terhadap diare (Anonim, 1985:Artini,1987).

Konsep Dasar DHF (Dengue Haemorrhagie Fever)

Definisi
Penyakit dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (arthropod born virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Ngastiyah, 1997 : 341).

DHF adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam, manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang mengakibatkan kematian (Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 : 419).


Etiologi
Virus dengue termasuk dalam kelompok arbovirus b. dikenal 4 serotipe virus dengue yang saling tidak mempunyai imunitas silang yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe lain.

Gambaran Klinik
Penyakit ini ditandai oleh demam mendadak tanpa sebab yang jelas disertai gejala lain seperti lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan. Gejala-gejala tersebut menyerupai influenza biasa. Pada hari ke-2 atau ke-3 demam muncul bentuk perdarahan yang beraneka ragam mulai dari perdarahan yang ringan (petekla/ekimosis, perdarahan gusi, epistaksis) sampai perdarahan yang hebat berupa muntah darah akibat perdarahan lambung, melena, dan juga hematuna masif.

Selain perdarahan juga terjadi juga terjadi syok, biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak semakin lemah. Ujung jari, telinga dan hidung teraba dingin. Denyut nadi cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

Menurut patokan dari WHO tahun 1975, diagnosa DHF harus berdasarkan adanya gejala klinik sebagai berikut :
1. Demam tinggi mendadak dan terus-terus selama 2-7 hari.
2. Manifestasi perdarahan, paling tidak terdapat uji turnikel positif dan adanya salah satu bentuk perdarahan yang lain.
3. Pembesaran hati (sudah diraba sejak permulaan sakit).
4. Renjatan yang ditandai nadi lemah, cepat, tekanan darah menurun disertai kulit teraba dingin dan lembab, penderita menjadi gelisah timbul sianosis di sekitar mulut.

Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
Trombositopenia (100.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari meninggalnya nilai hematokrit sebanyak 20% atau lebih dibandingkan dengan nilai hematokrit pada masa konvalesen. Ditemukannya 2 atau 3 patokan klinis pertama disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk klinis membuat diagnosa DHF.

Berdasarkan patokan WHO (1975) DHF dibagi menjadi 4 derajat sebagai berikut :
a. Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas, hanya dapat manifestasi perdarahan (Uji Turniket pasien).
b. Derajat II : Seperti derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan perdarahan lain.
c. Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun atau hipotensi disertai kulit yang dingin.
d. Derajat IV : Renjatan berat dengan nadi tak teraba dan tekanan darah yang tidak dapat diukur.
Perdarahan pasien DHF terjadi karena trompositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi. Perdarahan hebat dapat terjadi terutama pada traktus gastrointestinal.

Penatalaksanaan
Pada dasarnya pengobatan pasien DHF bersifat simptomatis dan suporatif.
1. DHF Tanpa Renjatan
Rasa haus dan dehidrasi timbul akibat demam tinggi, anoreksia dan muntah. Penderita perlu diberi minum banyak 1 ½ -2 liter dalam 24 jam yang dapat berupa the manis, sirup, susu, dan bila mau diberi oralit. Cara memberi minum sedikit demi sedikit dan orang tua yang menunggu dilibatkan dalam kegiatan ini. Pemberian minum secara gastronasal tidak dilakukan karena resiko merangsang terjadinya perdarahan.

Keadaan hiperpireksia (suhu 40oC atau lebih) diatasi dengan obat antipiretik dan kompres dingin. Jika terjadi kejang-kejang diberi luminal atau anti konvulsan lain. Luminal diberikan dengan dosis : anak umur kurang dari 1 tahun 50 mg IM, anak lebih dari 1 tahun 75 mg. Bila dalam waktu 15 menit kejang belum berhenti luminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/kg bb. Anak di atas 1 tahun diberi 50 mg dan di bawah 1 tahun 30 mg dengan memperhatikan adanya depresi fungsi vital.

Infus diberikan pada pasien DHF tanpa renjatan apabila pasien terus-meneurus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi, didapatkan nilai hematokrit yang cenderung terus meningkat.

2. DHF Disertai Renjatan
Pasien yang mengalami renjatan (syok) harus segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma. Cairan yang diberikan biasanya tinger laktat. Jika pemberian cairan tersebut tidak respon diberikan plasma, banyaknya 20-30 ml/kg bb. Pada pasien dengan renjatan berat yang telah kolaps sehingga kecepatan tetesan tidak tercapai yang diharapkan maka untuk mengatasinya dimasukkan cairan secara paksa ialah spuit dimasukkan cairan sebanyak 100-200 ml, baru kemudian diguyur.

Mengingat bahwa kebocoran plasma dapat berlangsung 24-28 jam, maka pemberian infus dipertahankan walaupun tanda-tanda vital telah nyata-nyata baik. Karena hematokrit merupakan indeks yang terpercaya dalam menentukan kebocoran plasma, maka pemeriksaan tidak perlu dilakukan secara periodik. Selanjutnya kecepatan tetes diberikan sesuai dengan keadaan gejala klinik.

Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. Kadang-kadang perdarahan gastrointestinal berat dapat diduga apabila nilai hemoglobin dan hematokrit menurun sedangkan perdarahan sendiri tidak kelihatan. Dengan memperhatikan evaluasi klinik yang telah disebut maka dalam keadaan inipun dianjurkan pemberian darah.

Evaluasi pengobatan renjatan dibuat catatan data klinik mencantumkan tanggal dan jam pemeriksaan serta memuat hasil pemeriksaan nilai hemoglobin, nilai hematokrit, trombosit, jenis dan jumlah cairan yang diberikan (kecepatan tetesan) juga bila terjadi perdarahan gastrointestinal jumlah dan warna perdarahannya. Bila renjatan tidak teratasi dengan pengobatan biasa atau terjadi renjatan berulang dirawat di ICU.

Kamis, 28 Oktober 2010

Manfaat Pembeian Zinc Pada Penderita Diare

Alasan Mengapa Penderita Diare Perlu di berikan Zinc

Diare masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di Negara berkembang. Di dunia diperkirakan 2 juta anak meninggal karena penyakit diare setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri angka penyakit diare terus meningkat, hasil survei morbiditas yang dilakukan oleh Depkes pada tahun 2003 menunjukkan angka kesakitan adalah 374/1000 penduduk dan tahun 2006 menjadi 423/1000 penduduk.
Adalah zinc yang merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk pertumbuhan dan kesehatan anak. Komposisi dan jumlah zinc menurun dalam jumlah besar bila anak terserang diare. Nah, untuk menggantikan zinc yang hilang selama diare. Anak dapat di berikan tablet zinc untuk menjaga agar anak tetap sehat. Zinc biasa disebut dengan Seng adalah mikronutrien esensial, artinya walaupun dibutuhkan tubuh hanya dalam jumlah yang sedikit tetapi zinc sangat berperan penting bagi normalnya fungsi tubuh.
Ikatan dokter Anak Indonesia dan WHO serta UNICEF merekomendasikanbahwa untuk tatalaksana diare saat ini dengan menggunakan oralit konsentrasi rendah dan pemberian zinc sebagai obat selama 10 – 14 hari.
Mengapa zinc diberikan pada penderita diare ?. Atas dasar penelitian yang menunjukkan bahwa zinc dapat menurunkan lamanya diare ( 20 % ), menurunkan frekuensi defekasi ( 18 % – 59 % ) dan menurunkan kejadian diare dalam 2- 3 bulan ke depan. Pembeerian zinc di maksudkan untuk menunjang penyatuan mukosa yang berhubungan denga proses fisiologi saluran cerna serta komponen penting dalam struktur dan fungsi membran sel yang berfungsi memperbaiki proses epitelisasi karena pada saat diare terjadi kerusakan mukosa usus yang disebabkan adanya gannguan mukosa usus yang dipengaruhi oleh sistem kekebalan saluran cerna.
Lalu bagaimana dosisnya :
Zinc diberikan selama 10 hari penuh walaupun diare telah berhenti dengan dosis, anak usia kurang dari 6 bulan diberikan 10 mg dan anak usia lebih dari 6 bulan diberikan 20 mg. untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI atau Oralit. Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang.
Pemberian zinc tidak boleh bersamaan dengan Fe karena akan terjadi kompetisi dalam sistem penyerapan keduanya.

Selasa, 26 Oktober 2010

ASUHAN KEPERAWATAN DIFTERI

DIFTERI

A. Definisi
Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteriae yang berasal dari membran mukosa hidung dari nasofaring, kulit, dan lesi lain dari orang yang terinfeksi.

B. Etiologi
Coynebacteriunt diphteriae, bakteri berbentuk batang gram positif

C. Epidemiologi
Penularan umumnya melalui udara, berupa infeksi droplet, selain itu dapat pula melalui benda atau makanan yang terkontaminasi

D. Patofsiologi
- Kuman berkembang biak pada saluran nafas atas, dan dapat juga pada vulva, kulit, mata, walaupun jarang terjadi.
- Kuman membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudo membran timbul lokal dan menjalar dari faring, laring dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening akan tampak membengkak dan mengandung toksin.
- Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan timbul miriasis otot-otot pernafasan bila mengenai jaringan saraf.
- Sumbatan pada jalan nafas sering terjadi akibat dari pseudo membran pada laring dan trakea dan dapat menyebabkan kondisi yang fatal.


E. Klasifikasi
Biasanya pembagian dibuat menurut tampat atau lokalisasi jaringan yang terkena infeksi. Pembagian berdasarkan berat ringannya penyakit juga diajukan oleh Beach, dkk (1950) sebagai berikut:
a. Infeksi ringan
Pseudomembran terbatas pada mukosa hidung atau fausial dengan gejalahanya nyeri menelan.
b. Infeksi sedang
Pseudomembran menyebar luas sampai ke dinding posterior faring dengan edema ringan laring yang dapat diatasi dengan pengobatan konservatif
c. Infeksi berat
Disertai gejala sumbatan jalan nafas yg berat, yg hanya dapat diatasi dengan trekeostomi. Juga gejala komplikasi miokarditis, paralisis atau pun nefritis dapat menyertai.

F. Gejala Klinis
Masa tunas 3-7 hari khas adanya pseudo membran, selanjutnya gejala klinis dapat dibagi dalam gejala umum dan gejala akibat eksotoksin pada jaringan yang terkena.
Gejala umum yang timbul berupa demam tidak terlalu tinggi lesu, pucat ntyeri kepala dan anoreksia sehingga tampak penderita sangat lemah sekali Gejala ini biasanya disertai dengan gejala khas untuk setiap bagian yang terkerta seperti pilek atau nyeri menelan atau sesak nafas dengan serak dan stridor, sedangkan gejala akibat eksotoksin bergantung kepada jaringan yang terkena seperti miokarditis paralisis jaringan Saraf atau nefritis .

1. Difteria hidung
Gejalanya paling ringan dan jarang terdapai (hanya 2%). Mula-mula hanya tam-pak pilek, tetapi kemudian sekret yang ke luar tercampur darah sedikit yang ber-asal dari pseudomembran. Penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai fa¬ring dan laring. Perderita diabati seperti penderita difteria lainnya.
2. Difteria faring don tonsil (difteria fausial)
Paling sering dijumpai (± 75%). Gejala mungkin tingar. Hanya berupa radang pada selaput lendir dan tidak membentuk pseudomembran sedangkan diagnosis dapat dibuat atas dasar hasil biakart yang positif. Dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita. Pada penyakit yang lebih berat, mulainya seperti radang akut tenggorok dergan suahu yang ti¬dak terlalu tinggi, dapat ditemukan pseudomembran yang mula-mula hanya be¬rapa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring, nafas berbau dan timbul pembengkakan kelenjar regional sehilgga leher tampak seperti leher sapi (bull neck). Brennernan dan Mc Quarne (1956) meryatakan bahwa setiap bercak keputihan di luar tonsil dapat dianggap sebagai difteria, se¬dangkan Herdarshee menegaskan lebih lanjut bahwa setiap membran yang me¬nutupi dinding posterior faring atau menutupi seluruh permukaan tonsil baik satu maupun kedua sisi dapat dianggap sebagai difteria.
Dapat terjadi salah menelan dan suara serak serta stridor inspirasi walaupun be-lum terjadi sumbatan taring. Hal ini disebabkan oleh paresis palatum mole. Pada pemeriksaan darah dapat terjadi penurunan kadar haemoglobin dan leukositosis, polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit dan kadar albumi, sedangkan pada urin mungkin dapat ditemukan albuminuria ringan.

3. Diftheria laring dan trakhea
Lebih sering sebagai penjalaran difteria faring dart tonsil (3 kali lebih banyak) daripada primer mengenai laring. Gejala gangguan jalan nafas berupa suara serak dan stridor inspirasi jelas dan bila lebih berat dapat timbul sesak nafas hebat, sia-nosis dan tampak retraksi suprastemal serta epigastrium Pembesaran ketenjar regional akan menyebabkan bull neck. Pada pemeriksaan laring tampak kemera-han, sembab, banyak sekret dan permukaan ditutupi oteh pseudomembran. Bila anak terlihat sesak dan payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan trakeostomi sebagai pertolongan pertama.

4. Difteria faeraneus
Merupakan keadaan yang sangat jarang sekali terdapat. Tan Eng Tie(1965) men-dapatkan 30% infeksi kulit yang diperiksanya mengandung kuman difteria. Da-pat pula timbul di daerah konjungtiva, vagina dan umbilikus.

G. Komplikasi
a. Saluran pernafasan
Obstruksi jalan nafas dengan segala bronkopneumonia atelaktasis
b. Kardiovaskuler
Miokarditis akibat toksin yang dibentuk kuman penyakit ini.
c. Urogenital
Dapat terjadi nefritis
d. Susunan saraf
Kira-kira 10% penderita difteria akan mengalami kompikasi yang mengenai sistem susunan saraf terutama sistem motorik.
Paralisis/parese dapat berupa:
a. Palisis/paresis palatum mole sehingga terjadi rinolalia, kesukaran menelan Sifatnya reversible dan terjadi pada minggu kesatu dan kedua
b. Paralisis/paresis otot otot mata; sehingga dapat mengakibatkan strabismus gangguan akomodasi, dilatasi pupil atau ptosis, yang timbuI setelah minggu ketiga.
c. Paralisis umum yang dapat timbul setelah minggu keempat. Kelainan dapat mengenai otot muka, leher anggota gerak dan yang paling berbahaya bila mengenai otot pernafasan.





H. Prognosis
Nelson berpendapat kematian penderita difteria sebesar 3 - 5% dan sangat bergantung kepada:
a. Umur penderita, karena makin muda umetr anak prognosis makin buruk.
b. Perjalanan penyakit, karena makin lanjut makin buruk prognosisnya.
c. Letak lesi difteria
d. Keadaan umum penderita, misalnya prognosis kurang baik pada penderita gizi kurang.
e. Pengobatan. Makin lambat pemberian antitoksin, prognosis akan makin bu¬ruk.

I. Pencegahan
1. lsolasi penderita.
Penderita difteria harus diisolasi dan baru dapat dipuiangkan setelah pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan tidak terdapat lagi C. diphtheriae 2 kali berturut-turut.
2. Imunisasi
3. Pencarian dan kemudian mengobati karier difteria. Dilakukan dengan uji Schick. yaitu bila hasil uji negatif (mungkin penderita karier atau pernah mendapat imunisasi), maka hmvs diiakukan hapusan tenggorok. Jika ter¬nyata ditemukan C. diphtheriae, penderita harus diobati dan bila perlu dila¬kukan tonsilektomi:

J. Penatalaksanan Teraupetik
1. Pengobatan Umum
Terdiri dari perwatan yang baik, istirahat mutlak di tempat tidur, isolasi penderita dan pengawasan yang ketat atas kemungkinan timbulnya komplikasi antara lain pemeriksaan EKG tiap minggu.
2. Pengobatan Spesifik
a. Anti Diphtheria Serum (ADS) diberikan sebanyak 20.000 U/hari selama 2 hari berturut-turut dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan mata Bila ternyata penderita peka terhadap serum tersebut, maka harus dilakukan desensitisasi dengan cara Besredka
b. Antibiotika diberikan penisilin prokain 50.000 U/kgbb/hari sampai 3 hari bebas panas. Pada penderita yang diiakukan trakeostomi, ditambahkan kloram¬fenikol 75 mm/kgbb/hari, dibagi 4 dosis.
c. Kortikosteroid. Obit ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. Dapat diberikan prednison 2 mg/kkbbb/hari selama 3 minggu yang kemudian dihentikan secara bertahap

Penderita difteria dirawat selama 3 - 4 rninggu. Bila terdapat sumbatan jalan nafas harus dipertimbangkan tindakan trakeostomi, karena tindakan ini pada difteri laring dengan sumbatan jalan nafas akan menyelamatkan jiwa penderita Perawatan pasca-trakeostomi juga memegang peranan penting seperti pengisapan lendir secara berhati-hati dan teratur sebab pengisapan lendir secara sembrono dapat menimbulkan refleks vagal yang dapat menyebabkan kematian. Intubasi trakea juga dapat dipakai untuk menolong penderita yang mengalami sumbatan jalan nafas dan dapat dilakukan oleh dokter umum.
Bila ada komplikasi paralisis/paresis otot, dapat diberikan sriknin ¼ mg dan vitaminmin B1 100 mg setiap hari seiama 10 hari berturut-turut.

K. Penatalaksanaan Perawatan
1. Pengkajian
- Riwayat keperawatan; riwayat terkena penyakit infeksi, status inimunisasi
- Kaji tanda tanda yang terjadi pada nasal, tonsil/faring, dan laring
- Lihat dari manfestasi klinis berdasarkan alur patofisiologi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas.
b. Resiko penyebarluasan. infeksi berhubungan. dengan organisme virulen
c. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan proses penyakit (metabolisme meningkat, intake cairan menurun)
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang.

3. Perencanaan
a. Anak akan menunjukkan tanda tanda jalan nafas efektif
b. Penyebarluasan infeksi tidak terjadi
c. Anak menunjukkan tanda tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi
d. Anak akan mempertamankan keseimbangan cairan.

4. Implementasi
a. Meningkatkan jalan nafas efektif
- Kaji status pernafasan observasi irama dan bunyi pernafasan.
- Atur posisi kepala dengan posisi ekstensi
- Suction jalan nafas jika terdapat sumbatan
- Berikan oksigen sebelum dan setelah dilakukan suction
- Lakukan fisioterapi dada
- Persiapkan anak untuk dilakukan trakeostomi
- Lakukan pemeriksaan analisa gas darah
- Lakukan intubasi jika ada indikasi
b. Perluasan infeksi tidak terjadi
- Tempatkan anak pada ruang khusus
- Pertahankan isolasi yang ketat di rumah sakit
- Gunakan prosedur perlindungan infeksi jika melakukan kontak dengan anak
- Berikan antibiotik sesuai order
c. Kekurangan volume cairan tidak terjadi
- Memonitor intake output secara tepat, pertahankan intake cairan dan elektrolit yang tepat
- Kaji adanya tanda tanda dehidrasi (membran mukosa kering, turgor, kulit kurang, produksi urin menurun, frekuensi denyut jantung dan pernafasan. meningkat, tekanan darah menurun, fontanel cekung).
- Kolaborasi untuk pernberian cairan parenteral jika pemberian cairan melalui oral tidak memungkinkan.
d. Meningkatkan kebutuhan nutrisi
- Kaji ketidakmampuan anak untuk makan
- Memasang NGT untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak
- Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral
- Menilai indikator terpenuhinya kebutuhan nutrisi (berat badan, lingkar lenga, memberan mukosa) yang adekuat.

5. Perencanaan Pemulangan
- Jelaskan terapi yang diberikan : dosis, efek samping
- Melakukan prosedur immunisasi jika immunisasi belum lengkap sesuai dengan prosedur
- Menekankan pentingnya kontrol ulang sesuai jadwal
- Informasikan jika terdapat tanda-tanda bahaya terjadinya kekambuhan.

DAFTAR PUSTAKA


Supriadi, 2004, Asuhan Keperawatan Anak, Jakarta: Sagung Seto
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, 2005, IlmU Kesehatan Anak, Jakarta: FKUI. 

Selasa, 17 Agustus 2010

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi Demam Tifoid


Kompas.com - Demam tifoid memang merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai di Indonesia. Menurut surveilans Departemen Kesehatan kita, kejadian demam tifoid meningkat dari tahun 1990 yang hanya 9,2 per 10.000 penduduk menjadi 15,4 per 100.000 penduduk pada tahun 1994. Sebagian penderita memang kelompok remaja dan usia muda.

Demam tifoid disebabkan kuman, dan kuman masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman. Sebenarnya, lambung kita mampu mematikan sebagian kuman tifoid ini, tetapi jika jumlah banyak, kuman yang tak berhasil dimatikan akan beredar ke seluruh tubuh melalui darah. Timbullah gejala demam dan kadang nyeri perut. Masa inkubasi penyakit ini 10 sampai 14 hari.

Tifoid toksik
Gambaran klinis demam tifoid dapat bervariasi, dari penyakit ringan sampai penyakit yang berat. Tifoid toksik merupakan gambaran klinis yang berat. Tifoid toksik sebenarnya sudah agak jarang dijumpai, tetapi keadaan tersebut dapat terjadi karena pengaruh faktor kuman dan respons imun tubuh penderita.

Dibandingkan dengan negara tetangga, kejadian demam tifoid di negeri kita masih lebih tinggi. Mungkin ini berkaitan dengan upaya kita untuk menjaga kebersihan diri dan kebersihan makanan yang belum optimal.

Jika diperhatikan di Malaysia, Singapura, dan Thailand, pengawasan terhadap kebersihan makanan dijalankan secara teratur. Di negeri kita, banyak orang yang makan di luar rumah termasuk di kaki lima, dukungan untuk kebersihan makanan di kaki lima ini belum dijalankan dengan baik.

Di sekolah ada kantin sekolah, tetapi kebersihannya belum terjaga dengan baik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah melakukan pembinaan terhadap kantin sekolah di sekolah dasar di Kampung Melayu, Jakarta. Tujuannya adalah agar makanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan gizi anak dan dihidangkan dalam lingkungan yang bersih.

Institut Pertanian Bogor juga sudah lama menggagas kantin sekolah yang sehat. Mudah-mudahan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan dapat menindaklanjuti rintisan ini.

Masyarakat sendiri perlu mengamalkan hidup bersih. Sering mencuci tangan dan mengonsumsi makanan yang bersih, tak tercemar kuman. Salah satu kekurangan pedagang makanan di pinggir jalan adalah air bersih. Mungkin dinas kesehatan dapat membantu sehingga cemaran kuman dan virus terhadap makanan jajanan dapat dikurangi.

Vaksinasi
Setelah menderita demam tifoid, penderita akan mengalami kekebalan terhadap kuman tifoid. Namun, hanya sebagian saja penderita yang mempunyai kekebalan. Sebagian lain tidak sehingga dapat terjadi infeksi demam tifoid berulang. Untuk mencegah penularan demam tifoid, di samping hidup bersih dapat juga dilakukan vaksinasi tifoid. Dewasa ini, di Indonesia tersedia vaksin tifoid suntikan. Vaksinasi harus diulang tiap tiga tahun.

Dengan meningkatnya keinginan melakukan wisata kuliner, risiko penularan penyakit yang ditularkan melalui makanan akan meningkat. Karena itu, sudah waktunya dinas kesehatan meningkatkan kegiatan pembinaan pedagang makanan agar mampu menyediakan makanan yang bebas kuman penyakit. Di restoran yang mewah sekalipun keamanan makanan tetap harus dijaga. Para penyaji makanan hendaknya harus bebas dari kuman tifoid agar tak menularkan ke pelanggan.

Di luar negeri juga ada aturan khusus untuk menjamin keamanan makanan. Salah satu upaya para pengolah dan penyaji makanan mendapat vaksinasi demam tifoid. Peningkatan angka kejadian demam tifoid di masyarakat patut menjadi perhatian kita semua.

Kita perlu berhati-hati memilih makanan dan minuman, para pedagang menjaga makanan yang disajikan agar bersih, serta dinas kesehatan melakukan pembinaan dan pengawasan.
Dr.Samsuridjal Djauzi

Keseringan Minum Parasetamol Bikin Remaja Rentan Asma

Keseringan Minum Parasetamol Bikin Remaja Rentan Asma


Selandia Baru, Parasetamol dikenal sebagai obat penurun demam dan pereda nyeri seperti sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot. Tapi penggunaan parasetamol secara rutin dapat menyebabkan asma, alergi hidung dan eksim pada remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lebih dari 300 ribu partisipan remaja usia 13-14 tahun, menunjukkan bahwa partisipan yang mengonsumsi parasetamol setidaknya satu kali dalam sebulan, 2,5 kali lebih mungkin terserang asma.
Bahkan partisipan yang hanya mengonsumsi sekali dalam setahun, 30-50 persen dapat mengembangkan penyakit asma. Studi juga berkaitan dengan alergi hidung dan eksim.

Untuk eksim, orang yang mengonsumsi parasetamol sekali dalam setahun, sepertiga kali lebih mungkin memiliki kondisi kulit eksim. Dan penggunaan sekali dalam sebulan mengembangkan eksim kurang dari dua kali lipat.

Menurut tim penelitian dari Medical Research Institute, Selandia Baru, meski belum dapat menentukan apakah parasetamol jelas menyebabkan peningkatan risiko asma, eksim dan alergi hidung, tapi ada banyak bukti yang berkembang dan mengarah pada kasus ini.

Peneliti berpendapat bahwa parasetamol sebagai obat penghilang rasa sakit yang bersifat antipiretik atau analgesik, dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan peradangan di saluran napas. Hasil penelitian telah dipublikasikan pada American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

"Ditemukan bahwa parasetamol secara luas digunakan oleh hampir setengah dari pasien yang menderita asma parah. Ini sebenarnya bisa dicegah dengan menghindari penggunaan parasetamol," jelas Dr Richard Beasley, profesor kedokteran dan penulis utama penelitian, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (16/8/2010).

Menurut Dr Beasley, keseluruhan dari pasien asma parah yang terkait dengan penggunaan parasetamol adalah sekitar 40 persen. Hal ini menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang cukup jelas.

"Percobaan terkontrol sangat dibutuhkan untuk meneliti lebih lanjut hubungan kasus ini dan untuk membimbing penggunaan antipiretik. Tidak hanya pada anak-anak dan remaja, tetapi juga pada wanita hamil dan orang dewasa," ungkap Dr Beasley.

(mer/ir)

Jumat, 06 Agustus 2010

Pengobatan Tuberkolosis pada Penderita Khusus

Pengobatan Tuberkolosis pada Penderita Khusus


Gejala TBC adalah dimulai dengan batuk-batuk ringan, tetapi lama-lama tambah hebat hingga keluar darah sedikit-sedikit. Gejala-gejala lainnya adalah: penderita tampak pucat, badan lemah semakin kurus, suhu badan naik dan kalau malam hari mengeluarkan keringat. Kadang-kadang ada juga yang suaranya sampai habis.

Menjaga kesehatan dengan sebaik-baiknya sebagai daya pertahanan alam. Menjuhi sumber penularan. Selain itu bagi yang biasa ke dokter, dapat juga minta penyuntikan vaksin BCG. Seorang ibu yang menderita TBC paru-paru, sebaiknya tidak menyusui anaknya selama belum sembuh.

Seseorang yang menderita penyakit tertentu, di samping TB, memerlukan pengobatan yang berhati-hati sehingga tidak terjadi kesalahan pemberian obat.

a. Kehamilan
Pada prinsipnya pengobatan Tuberkolosis (TB) pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. Menurut WHO, hampir semua Obat Anti Tuberkolosis (OAT) aman untuk kehamilan, kecuali streptomisin. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan.

Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB.

b. Ibu menyusui dan bayinya
Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.

c. Penderita TB pengguna kontrasepsi
Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB, susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang penderita TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal, atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg).

d. Penderita TB dengan infeksi HIV/AIDS
Tatalaksana pengobatan TB pada penderita dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti penderita TB lainnya. Obat TB pada penderita HIV/AIDS sama efektifnya dengan penderita TB yang tidak disertai HIV/AIDS.

Prinsip pengobatan penderita TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip-prinsip Universal Precaution (Kewaspadaan Keamanan Universal) Pengobatan penderita TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur.

Penderita TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Konsul sukarela dengan test HIV).

e. Penderita TB dengan hepatitis akut
Pemberian OAT pada penderita TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik, ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan.

f. Penderita TB dengan kelainan hati kronik
Bila ada kecurigaan gangguan faal hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan, harus dihentikan. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali, pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Penderita dengan kelainan hati, Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE.

g. Penderita TB dengan gagal ginjal
Isoniasid (H), Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada penderita-penderita dengan gangguan ginjal.

Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal, oleh karena itu hindari penggunaannya pada penderita dengan gangguan ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia, Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Paduan OAT yang paling aman untuk penderita dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR.

h. Penderita TB dengan Diabetes Melitus
Diabetes harus dikontrol. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah, setelah selesai pengobatan TB, dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Pada penderita Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika, oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol, karena dapat memperberat kelainan tersebut.

i. Penderita TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid
Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa penderita seperti:
• Meningitis TB
• TB milier dengan atau tanpa meningitis
• TB dengan Pleuritis eksudativa
• TB dengan Perikarditis konstriktiva.

Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari, kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan.

j. Indikasi operasi
Penderita-penderita yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru), adalah:
1) Untuk TB paru:
• Penderita batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif.
• Penderita dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif.
• Penderita MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir.

2) Untuk TB ekstra paru:
• Penderita TB ekstra paru dengan komplikasi, misalnya penderita TB tulang yang disertai kelainan neurologik.

Rabu, 04 Agustus 2010

TB Paru

TUBERKULOSIS


Latar belakang
Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan serta nifas (WHO). WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB.
Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Penyakit TB paru, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor I dari golongan infeksi. Antara tahun 1979 ? 1982 telah dilakukan survey prevalensi di 15 propinsi dengan hasil 200-400 penderita tiap 100.000 penduduk.
Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3 penderita terdapat disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik pemerintahd an swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangku unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000 per tahun.
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif, penderita TB kebanyakan dari kelompok sosio ekonomi rendah. Dari 1995-1998, cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) -atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek/setiap hari- baru mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%. Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%. Karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak cukup dimasa lalu kemungkinan telah timbul kekebalan kuman TB terhadap OAT (obat anti tuberkulosis) secara meluas atau multi drug resistance (MDR).

Definisi :
Penyakit Tuberkulosis: adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
Kuman Tuberkulosis :
Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu taha terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.

Cara Penularan :
Sumber penularana adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Resiko Penularan :
Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan berfariasi antara 1 ? 2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah; diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS.

Riwayat terjadinya Tuberkulosis

Infeksi Primer :
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuma TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 ? 6 minggu.
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) :
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.
Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis :
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :

Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas.
Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.
Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.

Perjalanan Alamiah TB yang Tidak Diobati :
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai ?kasus Kronik? yang tetap menular (WHO 1996).

Pengaruh Infeksi HIV :
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

Gejala - gejala Tuberkulosis
Gejala Umum :
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.
Gejala Lain Yang Sering Dijumpai :
Dahak bercampur darah.
Batuk darah.
Sesak napas dan rasa nyeri dada.
Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.

Penemuan pederita Tuberkulosis (TB)
Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada Orang Dewasa.
Penemuan penderita TB dilakukan secara Pasif, artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan. Penemuan secara pasif tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka penderita. Cara ini biasa dikenal dengan sebutan Passive Promotive Case Finding
Selain itu, semua kontak penderita TB paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya. Seorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini mungkin, mengingat tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian.Semua tersangka penderita harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu sewaktu ? pagi ? sewaktu (SPS).
Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada Anak.
Penemuan penderita tuberkulosis pada anak merupakan hal yang sulit. Sebagian besar diagnosis tuberkulosis anak didasarkan atas gambaran klinis, gambaran radiologis dan uji tuberkulin.

Diagnosis Tuberkulosis (TB)
Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa.
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif.
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.
Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan.
Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan.
Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 ? 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS :
Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB.
- Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA negatif rontgen positif.
- Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.

UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen, penderita dapat dirujuk untuk difoto rontgen dada.

ALUR DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PARU PADA ORANG DEWASA
Di Indonesia, pada saat ini, uji tuberkulin tidak mempunyai arti dalam menentukan diagnosis TB pada orang dewasa, sebab sebagian besar masyarakat sudah terinfeksi dengan Mycobacterium Tuberculosis Karena tingginya prevalensi TB. Suatu uji tuberkulin positif hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah terpapar dengan Mycobacterium Tuberculosis . Dilain pihak, hasil uji tuberkulin dapat negatif meskipun orang tersebut menderita tuberkulosis. Misalnya pada penderita HIV / AIDS, malnutrisi berat, TB milier dan Morbili.

Refleksi Hari TBC Sedunia
Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari Tuberkulosis (TBC) sedunia. Tahun ini peringatan hari TBC sedunia bertemakan "Every Breath Counts, Stop TB Now!". Tema ini menekankan pada kata "breath" yang tidak hanya berarti pernapasan, tetapi juga merupakan pusat dari segala aktivitas manusia. Sehingga, rusaknya "breath" karena TBC akan mengakibatkan rusaknya segala aktivitas manusia. Tema ini sekali lagi mengingatkan kita akan bahaya TBC dan urgensi pemberantasannya. Dalam rangka memperingati hari TBC ini juga dilakukan "2nd Stop TBC Partners", forum dan kampanye Stop TBC untuk 2004-2005 yang diselenggarakan di New Delhi.

Pembunuh massal
Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan TBC adalah bekteri pembunuh massal. WHO memperkirakan bakteri ini membunuh sekitar 2 juta jiwa setiap tahunnya. Antara tahun 2002-2020 diperkirakan sekitar 1 miliar manusia akan terinfeksi. Dengan kata lain pertambahan jumlah infeksi lebih dari 56 juta tiap tahunnya. Biasanya 5-10 persen di antara infeksi berkembang menjadi penyakit, dan 40 persen di antara yang berkembang menjadi penyakit berakhir dengan kematian.
Jika dihitung, pertambahan jumlah pasien TBC akan bertambah sekitar 2,8-5,6 juta setiap tahun, dan 1,1-2,2 juta jiwa meninggal setiap tahun karena TBC. Perkiraan WHO, yakni 2 juta jiwa meninggal tiap tahun, adalah berdasarkan perhitungan ini. Angka ini adalah angka yang besar, karena 2-4 orang terinfeksi setiap detik, dan hampir 4 orang setiap menit meninggal karena TBC ini. Kecepatan penyebaran TBC bisa meningkat lagi sesuai dengan peningkatan penyebaran HIV/AIDS dan munculnya bakteri TBC yang resisten terhadap obat.
Selain itu migrasi manusia juga mempercepat penyebaran TBC. Di Amerika Serikat, hampir 40 persen dari penderita TBC adalah orang yang lahir di luar negeri. Mereka imigrasi ke Amerika dan menjadi sumber penyebaran TBC. Begitu juga dengan meningkatnya jumlah pengungsi akibat perang dengan lingkungan yang tidak sehat sehingga memudahkan penyebaran TBC. Diperkirakan sebanyak 50 persen dari pengungsi di dunia berpeluang terinfeksi TBC.
Di kawasan Asia Tenggara, data WHO (http:www.whosea.org) menunjukan bahwa TBC membunuh sekitar 2.000 jiwa setiap hari. Dan sekitar 40 persen dari kasus TBC di dunia berada di kawasan Asia Tenggara. Dua di antara tiga negara dengan jumlah penderita TBC terbesar di dunia, yaitu India dan Indonesia, berada di wilayah ini. Indonesia berada di bawah India, dengan jumlah penderita terbanyak di dunia, diikuti Cina di peringkat kedua.
Dibandingkan dengan penyakit menular lainnya, TBC juga menjadi pembunuh nomor satu di kawasan ini, di mana jumlahnya 2-3 kali jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS yang berada di peringkat kedua. Sementara itu, penyakit tropis seperti demam berdarah dengue (DBD) tidak sampai sepersepuluhnya. Kita bisa membayangkan betapa seriusnya masalah TBC ini.
Karena itu, perlu kita sadari kembali bahwa TBC adalah penyakit yang sangat perlu mendapat perhatian untuk ditanggulangi. Karena bakteri mycobacterium tuberculosis sangat mudah menular melalui udara pada saat pasien TBC batuk atau bersin, bahkan pada saat meludah dan berbicara. Satu penderita bisa menyebarkan bakteri TBC ke 10-15 orang dalam satu tahun.
Berdasarkan data Rumah Sakit "Prof DR Sulianti Saroso" (http:www.infeksi.com), di Indonesia tiap tahun terdapat 583 ribu kasus dan 140 ribu di antaranya meninggal dunia. Jika dihitung, setiap hari 425 orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Kalau 1 orang pasien bisa menularkan ke 10 orang, pada tahun berikutnya jumlah yang tertular adalah 5,8 juta orang. Karena itu, jelaslah bahwa TBC adalah pembunuh massal yang harus diberantas.

Terapi TBC
Karena yang menjadi sumber penyebaran TBC adalah penderita TBC itu sendiri, pengontrolan efektif TBC mengurangi pasien TBC tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TBC saat ini, yaitu terapi dan imunisasi. Untuk terapi, WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy). Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung.
Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TBC berikutnya. Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TBC. Orang ini kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TBC atau tidak. Sampai saat ini, diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop. Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik, sedangkan diagnosa secara molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan.
Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TBC, dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien tersebut. Adapun obat TBC yang biasanya digunakan adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, streptomycin, dan ethambutol. Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten, biasanya diberikan obat yang terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini.
Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses peminuman obat serta perkembangan pasien. Ini sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. Setelah minum obat TBC biasanya gejala TBC bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. Walaupun demikian, untuk benar-benar sembuh dari TBC diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 6 bulan. Efek negatif yang muncul jika kita berhenti minum obat adalah munculnya kuman TBC yang resisten terhadap obat. Jika ini terjadi, dan kuman tersebut menyebar, pengendalian TBC akan semakin sulit dilaksanakan.
DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk menangani pasien TBC saat ini, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah menerima perlakuan DOTS ini. Di Indonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87 persen pada tahun 2000 (http:www.who.int). Angka ini melebihi target WHO, yaitu 85 persen, tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data WHO, untuk tahun 2001, tingkat deteksi hanya 21 persen, jauh di bawah target WHO, 70 persen. Karena itu, usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi.

Imunisasi
Pengontrolan TBC yang kedua adalah imunisasi. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyaki TBC. Vaksin TBC, yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Bakteri ini menyebabkan TBC pada sapi, tapi tidak pada manusia. Vaksin ini dikembangkan pada tahun 1950 dari bakteri M tuberculosis yang hidup (live vaccine), karenanya bisa berkembang biak di dalam tubuh dan diharapkan bisa mengindus antibodi seumur hidup. Selain itu, pemberian dua atau tiga kali tidak berpengaruh. Karena itu, vaksinasi BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup. Di Indonesia, diberikan sebelum berumur dua bulan.
Imunisasi TBC ini tidak sepenuhnya melindungi kita dari serangan TBC. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar antara 70-80 persen. Karena itu, walaupun telah menerima vaksin, kita masih harus waspada terhadap serangan TBC ini. Karena efektivitas vaksin ini tidak sempurna, secara global ada dua pendapat tentang imunisasi TBC ini. Pendapat pertama adalah tidak perlu imunisasi. Amerika Serikat adalah salah satu di antaranya. Amerika Serikat tidak melakukan vaksinasi BCG, tetapi mereka menjaga ketat terhadap orang atau kelompok yang berisiko tinggi serta melakukan diagnosa terhadap mereka. Pasien yang terdeteksi akan langsung diobati. Sistem deteksi dan diagnosa yang rapi inilah yang menjadi kunci pengontorlan TBC di AS.
Pendapat yang kedua adalah perlunya imunisasi. Karena tingkat efektivitasnya 70-80 persen, sebagian besar rakyat bisa dilindungi dari infeksi kuman TBC. Negara-negara Eropa dan Jepang adalah negara yang menganggap perlunya imunisasi. Bahkan Jepang telah memutuskan untuk melakukan vaksinasi BCG terhadap semua bayi yang lahir tanpa melakukan tes Tuberculin, tes yang dilakukan untuk mendeteksi ada-tidaknya antibodi yang dihasikan oleh infeksi kuman TBC. Jika hasil tes positif, dianggap telah terinfeksi TBC dan tidak akan diberikan vaksin. Karena jarangnya kasus TBC di Jepang, dianggap semua anak tidak terinfeksi kuman TBC, sehingga diputuskan bahwa tes Tuberculin tidak perlu lagi dilaksanakan.
Bagaimana dengan Indonesia? Karena Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak, agaknya masih perlu melaksanakan vaksinasi BCG ini. Dengan melaksanakan vaksinasi ini, jumlah kasus dugaan (suspected cases) jauh akan berkurang, sehingga memudahkan kita untuk mendeteksi pasien TBC, untuk selanjutnya dilakukan terapi DOTS untuk pasien yang terdeteksi. Kedua pendekatan, yaitu vaksinasi dan terapi perlu dilakukan untuk memberantas TBC dari bumi Indonesia.
: Andi Utama (Peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI dan Pemerhati Masalah Kesehatan)


PERANGI TBC :
10 HAL TENTANG TBC DAN PENANGGULANGANNYA.
10 FAKTA PENTING MENGENAI SITUASI TBC DI INDONESIA
Tiap tahun terdapat 583.000 kasus TBC di Indonesia
Secara nasional, TBC ?membunuh? kira-kira 140.000 orang setiap tahun
Setiap hari 425 orang meninggal akibat TBC di Indonesia.
Indonesia merupakan ?penyumbang? kasus TBC ke-3 di Dunia, setelah RRC dan India.
Tingkat resiko untuk terserang TBC di Indonesia berkisar antara 1,7 % - 4,4 % ( menurut data 1972-1987 ).
Sekitar ¾ pasien TBC di Indonesia tergolong dalam usia produktif.
Tahun 1995, pemerintah Indonesia mulai mengadopsi starategi DOTS (Directly Observed Tratment Short-Course) untuk menanggulangi TBC.
Tahun 1996, obat TBC di Puskesmas diberikan dalam bentuk Kombipak.
Tahun 1999 merupakan dimulainya era penting dalam penanggulangan TBC di Indonesia, karena dibentuknya GERDUNAS-TBC (Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TBC) yang merupakan wujut nyata kemitraan dengan berbagai sektor yang terkait dalam penanggulangan TBC di Indoensia.
Penelitian ekonomi kesehatan di Indonesia menemukan bahwa jika pengobatan dapat diterapkan secara dini, setiap US$¬¬ 1 yang untuk program penanggulangan TBC, maka akan dapat menghemat US$¬¬ 55 dalam waktu 20 tahun.

10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC
Tiap tahun selalu terdapat peningkatan jumlah penderita TBC yang tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
TBC membunuh lebih banyak kaum muda dan wanita dibandingkan penyakit menular lainnya.
Terdapat sekitar 2 sampai 3 juta orang meninggal akibat TBC setiap tahun. Sesungguhnya setiap kematian akibat TBC itu bisa dihindari.
Setiap detik, ada 1 orang yang meninggal akibat tertular TBC.
Setiap 4 detik, ada yang sakit akibat tertular TBC.
Setiap tahun. 1 % dari seluruh populasi di seluruh dunia terjangkit oleh penyakit TBC.
Sepertiga dari jumlah penduduk di dunia ini sudah tertular oleh kuman TBC (walaupun) belum terjangkit oleh penyakitnya.
Penderita TBC yang tidak berobat dapat menularkan pentakit kepada sekitar 10 ? 15 orang dalam jangka waktu 1 tahun.
Seperti halnya flu, kuman TBC menyebar di udara pada saat seseorang yang menderita TBC batuk dan bersin, meludah atau berbicara.
Kuman TBC biasanya menyerang paru-paru.

10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC & PERPINDAHAN PENDUDUK
Sekitar 50 % dari jumlah pengungsi di seluruh dunia kemungkinan telah tertular TBC, Setiap tahunnya, lebih dari 17.000 orang pengungsi menderita sakit akibat TBC.
Populasi pengungsi menghadapi peningkatan masalah akibat TBC; jumlah pengungsi dan pelarian di seluruh dunia telah berlipat 9 kali selama 20 tahun terakhir.
Penderita TBC yang tidak dirawat dapat menyebarkan penyakitnya secara cepat, terutama di lingkungan penampungan dan kamp pengungsi, Amatlah sulit memberikan perawatan TBC bagi penduduk yang berpindah-pindah.
WHO merekomendasikan bahwa TBC harus menjadi prioritas utama, sesegera mungkin setelah fase darurat bagi para pengungsi itu berlalu.
Turisme, perjalanan antar-negara dan migrasi menunjang terjadinya penyebaran kuman TBC.
Di banyak negara industri maju, paling tidak setengah dari jumlah kasus TBC, ditemukan pada orang-orang yang lahir di negara lain.
Di Amerika Serikat, 1/3 dari jumlah kasus TBC, ditemukan pada orang yang tempat kelahirannya bukan di AS
Jumlah kasus TBC di AS diantara orang-orang yanglahirnya bukan di AS, senantiasa meningkat setiap tahun.
Kaum gelandangan di negara maju merupakan golongan yang resiko tertular TBC-nya semakin meningkat.
Pada tahun 1995, dilaporkan bahwa hampir 30 % dari populasi gelandangan di San Francisco (AS) dan sekitar 25 % dari populasi gelandangan di London (Inggris) telah tertular oleh kuman TBC ? jauh lebih tinggi daripada rata-rata nasional di kedua negara tersebut.

10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC & PEREMPUAN
TBC merupakan penyakit menular paling ganas yang menyerang dan membunuh kaum perempuan.
Lebih dari 900 juta wanita di seluruh dunia tertular oleh kuman TBC. 1 juta diantaranya akan meninggal dan 2,5 juta akan segera menderita penyakit tersebut pada tahun ini, Perempuan yang menderita TBC ini berusia antara 15 ? 44 tahun.
TBC merupakan penyakit pembunuh yang paling mematikan bagi perempuan muda usia.
TBC memiliki andil sekitar 9 % dari kematian berusia 15-44 tahun, dibandingkan penyebab kematian lainnya (akibat perang:4%,HIV:3%,dan penyakit jantung:3 % ).
Perempuan dalam usia reproduksi lebih rentan terhadap TBC dan lebih mungkin terjangkit oleh penyakit TBC dibandingkan pria dari kelompok usia yang sama.
Wanita pada kelompok usia reproduksi juga beresiko lebih tinggi terhadap penuaran HIV.
Di sebagian negara Afrika, jumlah perempuan yang terjangkit TBC lebih besar dibandingkan jumlah penderita pria.
TBC menyebabkan jumlah kematian lebih besar bagi wanita dibandingkan kematian akibat melahirkan.
Di beberapa bagian dunia, stigma atau rasa malu akibat TBC menyebabkan terjadinya isolasi, pengucilan dan perceraian bagi kaum wanita.
Di beberapa bagian dunia, pergerakan kaum perempuan sedang mengusahakan adanya upaya lebih baik penanggulangan penyakit TBC.

APAKAH DOTS ITU ?
DOTS atau kependekan dari Directly Observed Treatment, Short-course adalah strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan secara langsung.
Dengan menggunakan startegi DOTS, maka proses penyembuhan TBC dapat secara cepat.
DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TBC agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh.
Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi, bisa sampai 95 %. Startegi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TBC.

Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen, yaitu :
o Adanya komitmen politis dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh menanggulangi TBC.
o Diagnosis penyakit TBC melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis
o Pengobatan TBC dengan paduan obat anti-TBC jangka pendek, diawasi secara langsung oleh PMO (Pengawas Menelan Obat).
o Tersedianya paduan obat anti-TBC jangka pendek secara konsisten.
o Pencatatan dan pelaporan mengenai penderita TBC sesuai standar.

Bank dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling ?cost effective?.
Bangladesh : Dengan strategi DOTS, angka kesembuhan mampu mencapai sekitar 80 %.
Maldives : Angka kesembuhan mencapai angka sekitar 85 % berkat strategi DOTS.
Nepal : Setelah menggunakan DOTS, angka kesembuhan mencapai 85 % - sebelumnya hanya mencapai 50 %.
RRC : Tingkat kesembuhan mencapai 90 % dengan DOTS.( DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER )