Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Oktober 2010

Jarang Kemasukan Sperma, Wanita Berisiko Hamil Preeklampsia


Jakarta, Preeklampsia menduduki peringkat kedua penyebab kematian ibu melahirkan di Indonesia. Dan salah satu faktor risiko terjadinya preeklampsia adalah jarang terpapar sperma.

Preeklampsia atau toksemia adalah penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) pada kehamilan yang disertai adanya protein di urine setelah kehamilan 20 minggu (5 bulan). Preeklampsia yang disertai kejang disebut eklampsia.

"Salah satu faktor risiko terjadinya preeklampsia pada ibu hamil adalah jarangnya terpapar sperma," jelas Dr Med Damar Prasmusinto, SpOG (K), dari Divisi Fetometernal Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/RSCM, dalam acara Seminar 4th Emergency Fair and Festival 2010 di Auditorium FKUI, Jakarta, Sabtu (30/10/2010).

Menurut Dr Damar, maksud dari jarang terpapar sperma disini adalah pasangan yang pada awal pernikahan memutuskan untuk kontrasepsi barrier (menggunakan kondom), pertama kali menjadi ayah dan sperma berasal dari orang lain (donor insemnasi).

"Hal ini disebabkan karena faktor imunologi. Jadi ada ketidaksesuain antara gen ibu dan ayah, sehingga ketika si ibu hamil terjadi penolakan gen ayah. Inilah yang menjadi faktor risikonya," jelas Dr Damar lebih lanjut.

Dr Damar menjelaskan, pada saat plasenta masih berada di rahim maka terjadi pembentukan pembuluh darah baru. Pada ibu hamil dengan tekanan darah normal, maka pembuluh darah akan lebar.

Namun, ketika terjadi penolakan gen, maka pembuluh darah baru tersebut akan sempit dan tekanannya menjadi tinggi.

Tekanan yang tinggi ini menyebabkan kerusakan endotel (dinding pembuluh darah), yang akhirnya tidak hanya menyebabkan tekanan darah tinggi di plasenta, tetapi juga pada pembuluh darah di seluruh tubuh yang menyebabkan hipertensi.

Selain jarang terpapar sperma, faktor risiko yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:
  1. Kehamilan pertama
  2. Pernah terjadi preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
  3. Kehamilan lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya
  4. Usia saat hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
  5. Terlahir dengan pertumbuhan janin terhambat
  6. Riwayat preeklampsia di keluarga (khususnya ibu atau saudara perempuan)
  7. Indeks massa tubuh diatas 35
  8. Sebelum hamil pernah mengalami hipertensi kronis, migrain, diabetes, penyakit
  9. ginjal, maupun rheumatoid arthritis.
  10. Kehamilan kembar
  11. Donasi sel telur
  12. Infeksi saluran kemih
  13. Kelainan janin

Menurut Dr Damar, tekanan darah tinggi selama kehamilan dapat berdampak bagi ibu dan anak, yaitu:

Pada ibu
  1. Jangka pendek menyebabkan sindrom HELLP (adanya hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi hepar), edema pulmonium dan eklampsia.
  2. Jangka panjang menyebabkan penyakit kardiovaskular, gagal ginjal kronik dan Dibetes Mellitus tipe 2.

Pada bayi
  1. Cerebral palsy
  2. Dibetes Mellitus tipe 2
  3. Penyakit kardiovaskular
  4. Obesitas
  5. PCO (Polycistic Ovarium)
  6. Teratozoospermia (bentuk sperma tidak normal)

Selain faktor imunologi, kehamilan preeklampsia juga disebabkan karena faktor genetik (keturunan) dan pendarahan, sehingga besar kemungkinan kondisi ini menurun di dalam keluarga.

Tapi untuk mencegahnya, ada beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan sebelum dan saat kehamilan, yaitu mengoptimalkan status nutrisi, antara lain:
  1. Multivitamin dan mineral, protein dan karbohidrat bervariasi
  2. Atasi infeksi seperti sakit gigi, infeksi saluran kemih dan keputihan.
  3. Upayakan berat badan ideal
  4. Olahraga teratur

Senin, 23 Agustus 2010

Ibu Hamil Jangan Minum Minuman Bersoda

Ibu Hamil Jangan Minum Minuman Bersoda

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Kopenhagen, Ibu yang sedang mengandung kadang suka mengonsumsi minuman ringan, tapi mulai kini sebaiknya minuman tersebut dihindari. Para ahli mengungkapkan pemanis buatan yang terkandung di dalamnya bisa membuat ibu hamil harus melahirkan sebelum waktunya.

Penelitian yang dilakukan terhadap 60.000 ibu hamil di Denmark menemukan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi minuman ringan baik bersoda atau tidak yang mengandung pemanis buatan, lebih memungkinkan untuk melahirkan bayinya lebih awal.

Dalam penelitian tersebut didapatkan jika ibu hamil mengonsumsi satu porsi minuman ringan yang mengandung pemanis buatan dalam sehari, maka kemungkinan untuk melahirkan sebelum usia kehamilan 37 minggu sebesar 38 persen. Tapi jika ibu hamil mengonsumsi sebanyak empat porsi sehari, maka kemungkinannya akan meningkat menjadi 78 persen.

Hubungan yang terkait antara minuman ringan dengan ibu hamil adalah pemanis buatan yang terkandung di dalam minuman tersebut akan dipecah di dalam tubuh menjadi suatu bahan kimia yang dapat mengubah rahim atau mempengaruhi kehamilan.

Efek yang ditimbulkan dari minuman ini adalah menyebabkan adanya perubahan di dalam tubuh ibu hamil sehingga kelahiran lebih awal diperlukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition.

"Temuan ini kemungkinan menjadi sangat penting untuk mencegah ibu hamil melahirkan bayi prematur, terutama bagi ibu hamil yang proses persalinannya hanya dibantu oleh perawat kesehatan perempuan," ujar Dr Shelley McGuire, juru bicara American Society of Nutrition, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (23/8/2010).

Lebih lanjut McGuire menuturkan perempuan yang sedang hamil harus menghindari minuman yang mengandung pemanis buatan, tapi harus memfokuskan diri pada minuman yang kaya akan nutrisi seperti susu atau jus buah serta tidak lupa mengonsumsi air putih yang cukup.

Studi yang dilakukan oleh Thorahallur Halldorsson dari Statens Serum Institut di Kopenhagen tidak memeriksa pemanis buatan apa yang terkandung di dalam minuman tersebut. Namun setiap perempuan sebaiknya memang harus peduli terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsinya selama hamil.

Jumat, 13 Agustus 2010

6 Hal Keliru Soal Demam Anak

6 Hal Keliru Soal Demam Anak

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Ketika anaknya demam, orangtua biasanya panik, stres atau kurang tidur. Tak semua demam pada anak sebenarnya berbahaya dan cenderung hanya sebagai mitos.

Demam itu sendiri bukanlah suatu penyakit, tapi sebagai tanda pertama bahwa kekebalan tubuh anak sedang bekerja sebagaimana mestinya.

Ketika suhu tubuh meningkat, demam akan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan menunjukkan adanya pertahanan tubuh untuk melawan infeksi. Tapi jika demam yang terjadi berulang-ulang kemungkinan ada penyakit yang mengikutinya.

Biasanya demam akan mempercepat pernapasan pada anak yang menunjukkan adanya peningkatan asupan oksigen dan jantung akan berdetak lebih cepat untuk membawa darah ke seluruh tubuh.

Selain itu hormon yang dilepaskan akan menstimulasi tubuh untuk melawan penyakit, nantinya tubuh akan dingin atau terjadi penurunan suhu secara alami untuk mengeluarkan keringat.

Dikutip dari Thechildrenhospital.org, Kamis (12/8/2010) ada beberapa anggapan yang keliru soal demam pada anak dan hanya menjadi mitos yang berkembang di masyarakat, yaitu:

1. Mitos: Jika suhu anak terasa hangat disimpulkan bahwa anak demam.
Fakta: Anak bisa memiliki suhu yang lebih hangat karena beberapa sebab, seperti bermain terlalu keras, menangis atau keluar dari tempat yang hangat. Biasanya kondisi ini akan normal kembali setelah 10-20 menit.

Untuk memastikannya orangtua bisa mengukur suhu tubuh anak dengan menggunakan termometer. Anak dikatakan demam jika suhunya lebih dari 38 derajat celsius.

2. Mitos: Demam merupakan kondisi yang buruk bagi anak-anak
Fakta: Jika demamnya masih pada suhu 37-38 derajat celsius biasanya baik untuk anak karena membantu tubuh untuk memerangi infeksi.

3. Mitos: Semua demam harus diatasi dengan obat
Fakta: Demam harus diatasi dengan obat jika menyebabkan ketidaknyamanan dan biasanya memiliki suhu lebih dari 38,8 derajat celsius.

4. Mitos: Demam bisa menyebabkan kerusakan otak

Fakta: Kerusakan otak terjadi jika suhu tubuh lebih dari 42,2 derajat celsius, suhu tubuh yang naik setinggi ini biasanya juga dipengaruhi oleh paparan suhu lingkungan yang ekstrim.

5. Mitos: Jika suhu demam sudah turun, maka infeksi sudah hilang juga.
Fakta: Demam biasanya akan berlangsung selama 1-2 hari sampai perkelahian tubuh dengan serangan virus selesai, karenanya proses ini tidak bisa terburu-buru.

6. Mitos: Dengan pengobatan, maka demam harus kembali normal.
Fakta: Pengobatan yang dilakukan biasanya akan menurunkan demam sebanyak 2-3 derajat.

(ver/ir)    

Kamis, 12 Agustus 2010

Denda Rp 100 Juta Bagi yang Menghalangi Pemberian ASI

Denda Rp 100 Juta Bagi yang Menghalangi Pemberian ASI

Irna Gustia - detikHealth

img
Ilustrasi (Foto: abc.net.au)
Jakarta, Pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi yang baru lahir hingga minimal berumur 6 bulan semakin dilegalkan secara hukum. Pihak-pihak yang menghalangi ibu untuk memberikan ASI akan dikenai denda Rp 100 juta atau penjara 1 tahun.

Pelaksanaan ketentuan tersebut sebenarnya sudah tercantum dalam UU Kesehatan No 36/2009, Pasal 128 ayat (1) yang isinya 'Setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif sejak dilahirkan selama 6 bulan kecuali atas indikasi medis'.

Sedangkan pada Pasal 128 ayat (2) berbunyi 'Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif dipidana penjara paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta'.

Namun aturan hukum tersebut baru bisa dijalankan jika sudah ada peraturan pemerintah (PP). Nah, saat ini kementerian kesehatan sedang menggodok RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah) Pemberian ASI dengan melibatkan koalisi peduli ASI.

RPP ini sedang digodok dan diharapkan bisa terbit pada Oktober 2010 atau 1 tahun sejak UU Kesehatan disahkan yakni Oktober 2009.

"RPP ini masih terus digodok kemenkes yang mengajak koalisi peduli ASI termasuk AIMI untuk diskusinya," kata Ketua Umum AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Mia Sutanto ketika dihubungi detikHealth, Kamis (12/8/2010).

Mia optmistis RPP ini bisa melindungi dan memacu ibu untuk menyusui bayi yang baru lahir, karena ASI adalah satu-satunya makanan yang diperlukan bayi hingga minimal usia 6 bulan atau maksimal 2 tahun.

"Jadi UU itu bukan menghukum ibu si bayi, tapi pihak-pihak yang menghalangi pemberian ASI untuk bayi. Ini perlu diluruskan karena anggapan yang muncul ibu yang tidak menyusui yang dipenjara, itu salah tapi pihak yang menghalangi pemberian ASI yang dihukum," jelas Mia.

Siapa pihak yang menghalangi pemberian ASI ini?

Mia menjelaskan pihak-pihak yang menghalangi pemberian ASI itu seperti dalam kasus saat ini contohnya:
1. Rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan fasilitas agar ibu melahirkan bisa langsung menyusui bayinya.

"Rumah sakit tidak menyediakan rawat gabung ibu dan bayi atau tidak melakukan inisiasi menyusui dini (IMD)," katanya

2. Tenaga kesehatan yang dengan sengaja memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir.
3. Dokter yang menyarankan pemberian ASI kepada ibu yang baru melahirkan.

Motivasi perlunya perlindungan pada ibu yang baru melahirkan untuk memberikan ASI eksklusif, karena saat ini banyak kasus yang membuat ibu sehat tersudut dengan tidak memberikan ASI.

"Kecuali ibu-ibu yang secara medis memang tidak bisa memberikan ASI," katanya.

Mia berharap pembahasan RPP ini tidak diganggu pihak-pihak ketiga seperti kepentingan produsen susu formula.

Bagaimana dengan pemberian ASI oleh perempuan yang bekerja?

Mia menjelaskan untuk perempuan pekerja saat ini sudah ada SKB 3 menteri yakni Menkes, Menneg PP dan Menaker yang mendukung penyediaan fasilitas pemberian ASI atau memberikan waktu pada ibu untuk memompa ASI di tempat kerja.

Pihak korporasi yang sengaja tidak memberikan fasilitas ibu menyusui dalam Pasal 200 terkena pidana denda Rp 300 juta. Dalam Pasal 201 ayat (2) disebutkan pula bahwa selain pidana denda, korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha dan atau pencabutan status badan hukum.(ir/up)

Jumat, 06 Agustus 2010

Atasi Sulit Makan pada Si Kecil

Atasi Sulit Makan pada Si Kecil


Permasalahan sulitnya si kecil makan merupakan masalah yang sebagian besar dialami orang tua. Mungkin anda juga mengalaminya. Dalam rangka menyambut hari anak nasional 2009, Fonterra Brand menyelenggarakan talk show dan kontes anak dengan tema kiat mengatasi sulit makan pada si kecil. Orang tua yang memiliki anak dengan permasalahan sulit makan harus segera mengatasinya. Sulit makan pada anak dikhawatirkan dapat menyebabkan anak kekurangan nutrisi dalam perkembangannya. Jika kondisi sulit makan dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan status gizi anak menjadi rendah (malnutrisi) sehingga proses tumbuh kembang tidak optimal.

Seorang anak mengalami periode emas pada 30 bulan pertama kehidupannya. Pada periode emas ini pertumbuhan anak sangat cepat, tidak terkecuali otak. Bila terjadi kekurangan nutrisi pada masa-masa tersebut akan berakibat perkembangan yang tidak optimal terutama perkembangan otak yang akan berpengaruh kepada kecerdasan anak.


“Makanan adalah bahan yang dapat dimakan dan mengandung komponen yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk pertumbuhan atau menjaga kondisi tubuh yang sehat. Pada dasarnya makan terdiri dari air, zat gizi serta bahan tambahan.“ demikian dikatakan dr. Nita Ratna Dewanti, SpA dalam acara Kids Contest dan healthy talk show yang diselenggarakan PT Fonterra Brands Indonesia dan RS Ramsay Bintaro International.

“Zat gizi terdiri dari zat makro dan zat mikro. Yang termasuk zat makro yaitu lemak, karbohidrat dan protein. Sedangkan zat mikro yaitu vitamin dan mineral serta air. Fungsi makanan diantaranya untuk memberikan energi (lemak, karbohidrat, protein), sebagai pertahanan tubuh, serta penting untuk pertumbuhan (protein, vitamin dan mineral, air)“ lanjut dokter spesialis anak RS Ramsay Bintaro International ini.

Salah satu nutrisi penting yang diperlukan adalah susu. Rekomendasi American Academic of Pediatrics (AAP) menyatakan, 300-455 kcal dari susu sapi dalam 1 hari. Ini berarti memenuhi sekitar 50% dari kebutuhan kalorinya per hari dari susu sapi. Selebihnya diperoleh dari makanan padat. Anak usia 1 tahun membutuhkan 1000 kkalori setiap harinya, dianjurkan 340 – 455 kkalori didapatkan dari susu, sisanya didapatkan dari makanan padat lainnya.



Tentang kesulitan makan anak, dr. Nita mengungkapkan bahwa penolakan anak usia ini terhadap makanan mungkin saja terjadi karena organ-organ pencernaan anak memang belum siap menerima makanan yang diberikan. Hal ini dapat disebabkan karena tekstur makanan yang terlalu kasar atau terlalu kental, bahkan bisa disebabkan karena porsi makanan tidak sesuai dengan kemampuan menelan bayi, paparnya.

Psikolog anak RS Ramsay International Bintaro Dra.Niniek A.Bawani mengatakan, terdapat beberapa kendala yang terjadi pada tahapan usia yang berbeda. Pada bayi berusia mulai 6 bulan (sudah mendapatkan makanan tambahan), si kecil mungkin sering menyembur atau melepeh makanannya atau tak mau menelan makannya. Pada usia batita, mengemut makanan menjadi salah satu kendala. “Kerja sama yang baik dari orang tua, pengasuh dan dokter anak diperlukan dalam menelusuri penyebab perilaku sulit makan pada anak. Misalnya menyemburkan atau melepeh makanan pada bayi mungkin terjadi karena pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu cepat atau bisa juga terlalu lambat,” ungkap Dra.Niniek lebih lanjut.


Berikut tips yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasi anak sulit makan :
• Sejak usia 6 bulan, bayi dan balita mulai diberikan makanan tambahan atau makanan pendamping ASI. Berikan makanan ini secara perlahan.
• Orang tua mengenalkan setiap jenis makanan padat satu-persatu dengan jumlah sedikit demi sedikit dalam beberapa hari. Hal ini membantu anak dalam beradaptasi dengan rasa dan tekstur makanan.
• Berikanlah contoh perilaku makan yang baik pada anak. Salah satu penyebab kesulitan makanan yang sering ditemui adalah perilaku makan di dalam rumah sendiri. Orang tua seringkali tidak memberikan contoh cara makan yang baik, misalnya makan sambil menelepon atau nonton teve.
• Variasi makanan, cita rasa dan tampilannya juga memegang peranan penting dalam memberi makanan pada anak. Jenis makanan yang itu-itu saja dan tampilan makanan yang membosankan akan menurunkan semangat anak untuk makan.
• Makan terjadwal. Pemberian jadwal makanan disarankan konstan dan berkesinambungan guna membentuk kedisiplinan anak.
• Suasana makan yang menyenangkan. Menciptakan suasana yang menyenangkan pada waktu makan dapat membantu mengatasi kondisi anak sulit makan. Jangan pernah memaksa anak dalam bentuk apapun, sebaiknya orang tua memberikan contoh bagaimana cara makan yang baik.