Senin, 23 Agustus 2010

Ibu Hamil Jangan Minum Minuman Bersoda

Ibu Hamil Jangan Minum Minuman Bersoda

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Kopenhagen, Ibu yang sedang mengandung kadang suka mengonsumsi minuman ringan, tapi mulai kini sebaiknya minuman tersebut dihindari. Para ahli mengungkapkan pemanis buatan yang terkandung di dalamnya bisa membuat ibu hamil harus melahirkan sebelum waktunya.

Penelitian yang dilakukan terhadap 60.000 ibu hamil di Denmark menemukan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi minuman ringan baik bersoda atau tidak yang mengandung pemanis buatan, lebih memungkinkan untuk melahirkan bayinya lebih awal.

Dalam penelitian tersebut didapatkan jika ibu hamil mengonsumsi satu porsi minuman ringan yang mengandung pemanis buatan dalam sehari, maka kemungkinan untuk melahirkan sebelum usia kehamilan 37 minggu sebesar 38 persen. Tapi jika ibu hamil mengonsumsi sebanyak empat porsi sehari, maka kemungkinannya akan meningkat menjadi 78 persen.

Hubungan yang terkait antara minuman ringan dengan ibu hamil adalah pemanis buatan yang terkandung di dalam minuman tersebut akan dipecah di dalam tubuh menjadi suatu bahan kimia yang dapat mengubah rahim atau mempengaruhi kehamilan.

Efek yang ditimbulkan dari minuman ini adalah menyebabkan adanya perubahan di dalam tubuh ibu hamil sehingga kelahiran lebih awal diperlukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition.

"Temuan ini kemungkinan menjadi sangat penting untuk mencegah ibu hamil melahirkan bayi prematur, terutama bagi ibu hamil yang proses persalinannya hanya dibantu oleh perawat kesehatan perempuan," ujar Dr Shelley McGuire, juru bicara American Society of Nutrition, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (23/8/2010).

Lebih lanjut McGuire menuturkan perempuan yang sedang hamil harus menghindari minuman yang mengandung pemanis buatan, tapi harus memfokuskan diri pada minuman yang kaya akan nutrisi seperti susu atau jus buah serta tidak lupa mengonsumsi air putih yang cukup.

Studi yang dilakukan oleh Thorahallur Halldorsson dari Statens Serum Institut di Kopenhagen tidak memeriksa pemanis buatan apa yang terkandung di dalam minuman tersebut. Namun setiap perempuan sebaiknya memang harus peduli terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsinya selama hamil.

Selada Air, Sayuran Super Pembasmi Kanker

Selada Air, Sayuran Super Pembasmi Kanker

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Southampton, Inggris, Beberapa jenis makanan sehari-hari menyimpan khasiat untuk mengobati penyakit sehingga dijuluki makanan super atau superfood. Penemuan terbaru, selada air (watercress) ternyata juga ampuh menghambat pertumbuhan sel kanker.

Selada air merupakan jenis tanaman yang tumbuh mengapung di air, tersebar di seluruh daratan Eropa dan Asia. Sering dikonsumsi sebagai sayur tumis dan rasanya agak mirip dengan kangkung atau bayam.

Selain kaya akan serat, baru-baru ini tim peneliti dari Southampton University mengungkap bahwa sayuran ini mengandung senyawa antikanker. Dalam pengujian terhadap sejumlah relawan, senyawa itu terbukti ampuh menghambat pertumbuhan kanker payudara.

Dikutip dari Telegraph, Senin (23/8/2010), uji coba itu dilakukan terhadap 4 partisipan wanita. Dalam sampel darah partisipan yang diamati selama 6 jam setelah mengkonsumsi selada air, tampak penurunan aktivitas senyawa yang membantu pertimbuhan kanker yakni protein 4E.

Penurunan tersebut diduga merupakan efek dari isothiocyanate, salah satu senyawa yang terkandung di dalam selada air. Akan tetapi mekanisme isothiocyanate dalam menghambat pembentukan protein 4E maupun pertumbuhan kanker itu sendiri masih belum diketahui pasti.

Dalam kesimpulan sementara yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition, peneliti juga mengungkap bahwa selada air juga tidak hanya menghambat pertumbuhan kanker. Bagi yang sudah pernah sembuh dari kanker, mengkonsumsi 80 gram atau 1 porsi sayuran ini setiap hari diklaim dapat mencegah kekambuhan.

Akan tetapi seorang peneliti dari Cancer Research di Inggris, Hazel Nunn berpendapat bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu. Menurutnya, temuan itu masih harus dikembangkan dengan mengujikan khasiat sayuran tersebut pada kelompok yang lebih luas.

Selasa, 17 Agustus 2010

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi Demam Tifoid


Kompas.com - Demam tifoid memang merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai di Indonesia. Menurut surveilans Departemen Kesehatan kita, kejadian demam tifoid meningkat dari tahun 1990 yang hanya 9,2 per 10.000 penduduk menjadi 15,4 per 100.000 penduduk pada tahun 1994. Sebagian penderita memang kelompok remaja dan usia muda.

Demam tifoid disebabkan kuman, dan kuman masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman. Sebenarnya, lambung kita mampu mematikan sebagian kuman tifoid ini, tetapi jika jumlah banyak, kuman yang tak berhasil dimatikan akan beredar ke seluruh tubuh melalui darah. Timbullah gejala demam dan kadang nyeri perut. Masa inkubasi penyakit ini 10 sampai 14 hari.

Tifoid toksik
Gambaran klinis demam tifoid dapat bervariasi, dari penyakit ringan sampai penyakit yang berat. Tifoid toksik merupakan gambaran klinis yang berat. Tifoid toksik sebenarnya sudah agak jarang dijumpai, tetapi keadaan tersebut dapat terjadi karena pengaruh faktor kuman dan respons imun tubuh penderita.

Dibandingkan dengan negara tetangga, kejadian demam tifoid di negeri kita masih lebih tinggi. Mungkin ini berkaitan dengan upaya kita untuk menjaga kebersihan diri dan kebersihan makanan yang belum optimal.

Jika diperhatikan di Malaysia, Singapura, dan Thailand, pengawasan terhadap kebersihan makanan dijalankan secara teratur. Di negeri kita, banyak orang yang makan di luar rumah termasuk di kaki lima, dukungan untuk kebersihan makanan di kaki lima ini belum dijalankan dengan baik.

Di sekolah ada kantin sekolah, tetapi kebersihannya belum terjaga dengan baik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah melakukan pembinaan terhadap kantin sekolah di sekolah dasar di Kampung Melayu, Jakarta. Tujuannya adalah agar makanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan gizi anak dan dihidangkan dalam lingkungan yang bersih.

Institut Pertanian Bogor juga sudah lama menggagas kantin sekolah yang sehat. Mudah-mudahan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan dapat menindaklanjuti rintisan ini.

Masyarakat sendiri perlu mengamalkan hidup bersih. Sering mencuci tangan dan mengonsumsi makanan yang bersih, tak tercemar kuman. Salah satu kekurangan pedagang makanan di pinggir jalan adalah air bersih. Mungkin dinas kesehatan dapat membantu sehingga cemaran kuman dan virus terhadap makanan jajanan dapat dikurangi.

Vaksinasi
Setelah menderita demam tifoid, penderita akan mengalami kekebalan terhadap kuman tifoid. Namun, hanya sebagian saja penderita yang mempunyai kekebalan. Sebagian lain tidak sehingga dapat terjadi infeksi demam tifoid berulang. Untuk mencegah penularan demam tifoid, di samping hidup bersih dapat juga dilakukan vaksinasi tifoid. Dewasa ini, di Indonesia tersedia vaksin tifoid suntikan. Vaksinasi harus diulang tiap tiga tahun.

Dengan meningkatnya keinginan melakukan wisata kuliner, risiko penularan penyakit yang ditularkan melalui makanan akan meningkat. Karena itu, sudah waktunya dinas kesehatan meningkatkan kegiatan pembinaan pedagang makanan agar mampu menyediakan makanan yang bebas kuman penyakit. Di restoran yang mewah sekalipun keamanan makanan tetap harus dijaga. Para penyaji makanan hendaknya harus bebas dari kuman tifoid agar tak menularkan ke pelanggan.

Di luar negeri juga ada aturan khusus untuk menjamin keamanan makanan. Salah satu upaya para pengolah dan penyaji makanan mendapat vaksinasi demam tifoid. Peningkatan angka kejadian demam tifoid di masyarakat patut menjadi perhatian kita semua.

Kita perlu berhati-hati memilih makanan dan minuman, para pedagang menjaga makanan yang disajikan agar bersih, serta dinas kesehatan melakukan pembinaan dan pengawasan.
Dr.Samsuridjal Djauzi

Keseringan Minum Parasetamol Bikin Remaja Rentan Asma

Keseringan Minum Parasetamol Bikin Remaja Rentan Asma


Selandia Baru, Parasetamol dikenal sebagai obat penurun demam dan pereda nyeri seperti sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot. Tapi penggunaan parasetamol secara rutin dapat menyebabkan asma, alergi hidung dan eksim pada remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lebih dari 300 ribu partisipan remaja usia 13-14 tahun, menunjukkan bahwa partisipan yang mengonsumsi parasetamol setidaknya satu kali dalam sebulan, 2,5 kali lebih mungkin terserang asma.
Bahkan partisipan yang hanya mengonsumsi sekali dalam setahun, 30-50 persen dapat mengembangkan penyakit asma. Studi juga berkaitan dengan alergi hidung dan eksim.

Untuk eksim, orang yang mengonsumsi parasetamol sekali dalam setahun, sepertiga kali lebih mungkin memiliki kondisi kulit eksim. Dan penggunaan sekali dalam sebulan mengembangkan eksim kurang dari dua kali lipat.

Menurut tim penelitian dari Medical Research Institute, Selandia Baru, meski belum dapat menentukan apakah parasetamol jelas menyebabkan peningkatan risiko asma, eksim dan alergi hidung, tapi ada banyak bukti yang berkembang dan mengarah pada kasus ini.

Peneliti berpendapat bahwa parasetamol sebagai obat penghilang rasa sakit yang bersifat antipiretik atau analgesik, dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan peradangan di saluran napas. Hasil penelitian telah dipublikasikan pada American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

"Ditemukan bahwa parasetamol secara luas digunakan oleh hampir setengah dari pasien yang menderita asma parah. Ini sebenarnya bisa dicegah dengan menghindari penggunaan parasetamol," jelas Dr Richard Beasley, profesor kedokteran dan penulis utama penelitian, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (16/8/2010).

Menurut Dr Beasley, keseluruhan dari pasien asma parah yang terkait dengan penggunaan parasetamol adalah sekitar 40 persen. Hal ini menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang cukup jelas.

"Percobaan terkontrol sangat dibutuhkan untuk meneliti lebih lanjut hubungan kasus ini dan untuk membimbing penggunaan antipiretik. Tidak hanya pada anak-anak dan remaja, tetapi juga pada wanita hamil dan orang dewasa," ungkap Dr Beasley.

(mer/ir)